Nyaris Tersesat di Sabtu,6 Juni 2026


 Kisah Ibu Munawaroh: Petualangan dari Ujung ke Ujung, Nyaris Tersesat karena Cinta... Eh, Salah Gang!

Hari itu, Ibu Munawaroh berangkat dengan penuh semangat menghadiri pesta keluarga Pak Ahmad Yadi di Selapajang. Setelah bersilaturahmi dan menikmati suasana pesta, perjalanan masih berlanjut menuju acara hajatan Bu Karin di Perumahan Grand Permata Sepatan.

Awalnya semua berjalan lancar. Rombongan melaju dengan motor masing-masing. Namun, seperti sinetron yang tidak lengkap tanpa konflik, tiba-tiba Ibu Munawaroh, Bu Hayati, dan Bu Rina kehilangan jejak rombongan.

"Eh, tadi mereka belok ke mana ya?" tanya Bu Rina.

"Kayaknya ke depan," jawab Bu Hayati dengan tingkat keyakinan yang hanya sekitar 30 persen.

Tanpa disadari, ketiganya masuk ke gang yang salah. Mereka sudah yakin sekali bahwa inilah jalan menuju rumah Bu Karin. Padahal kenyataannya, mereka sedang berkelana di wilayah Grand Permata Sepatan yang entah blok berapa.

Yang lebih membuat panik, Ibu Munawaroh tidak tahu persis rumah yang dituju.

"Ini hajatan Nana, kan?" tanya Bu Munawaroh.

"Iya... tapi Nana orang tuanya siapa?" jawab salah satu teman.

Seketika suasana hening.

Mau telepon teman bingung menjelaskan posisi. Mau bertanya ke warga juga bingung mau menyebut alamat apa.

"Pak, kalau rumah Bu Karin yang ada hajatan Nana di mana ya?"

Warganya mungkin dalam hati berpikir, "Nana yang mana, Bu? Di sini Nana ada banyak."

Sementara itu, rombongan utama sudah entah sampai mana. Tinggallah tiga pendekar wanita tangguh yang berputar-putar mencari jalan keluar.

Di tengah kebingungan itu, mata Ibu Munawaroh tertuju pada pemandangan yang membuatnya hampir lupa sedang tersesat.

Di depan sana terlihat Pak Endang membonceng Umi Masnun.

"Wah... Pak Endang sama Umi Masnun sudah seperti pasangan pengantin baru saja," celetuk Bu Hayati.

"Iya, itu boncengannya mesra sekali. Kalau yang lihat dari jauh pasti dikira sudah jadian dari dulu," tambah Bu Rina sambil tertawa.

Melihat mereka melaju dengan santai justru membuat Ibu Munawaroh semakin pasrah.

"Sudahlah, kalau sampai Magrib belum ketemu, kita pulang saja. Yang penting sudah niat datang," katanya sambil mengusap kening.

Maklum, perjalanan dari Selapajang ke Sepatan sudah membuat badan pegal. Naik motor dari ujung ke ujung, ditambah muter-muter salah gang, membuat kepala mulai terasa pusing.

"Duh, jangan sampai penyakitnya kambuh lagi," gumam Bu Munawaroh.

Ketika harapan hampir habis, tiba-tiba...

"Ehh... itu dia gangnya!"

Semua langsung bersorak seperti menemukan harta karun.

"Alhamdulillah! Ternyata dari tadi kita muter-muter cuma beda beberapa gang saja!"

Mereka pun akhirnya berhasil menemukan rumah Bu Karin dengan wajah lega bercampur geli. Sesampainya di lokasi, yang lain sudah lebih dulu menikmati hidangan.

Perjalanan hari itu mengajarkan satu hal penting:

Kalau mau datang ke hajatan, jangan hanya tahu nama yang punya acara. Minimal tahu juga alamatnya, bloknya, dan kalau perlu foto rumahnya sekalian. Karena kalau tidak, perjalanan silaturahmi bisa berubah menjadi wisata keliling perumahan.

Meski lelah, pegal, dan sempat hampir menyerah, kisah tersesatnya Ibu Munawaroh, Bu Hayati, dan Bu Rina justru menjadi cerita yang paling seru untuk dikenang. Bahkan sampai sekarang, setiap kali mendengar kata "Grand Permata Sepatan", mereka pasti langsung teringat satu kalimat legendaris:

"Nana itu sebenarnya anak siapa sih?" 😄🏍️🏍️🏍️

Komentar

  1. Wah terimakasih Bu Tini sudah mendengarkan dan menulis kan cerita saya.Kisah ini menjadi pengalaman dan pembelajaran buat saya dan teman2 agar mengetahui alamat dan nama seseorang itu penting sebelum melanjutkan perjalanan meskipun itu beramai2.
    Terimakasih buat penulis sangat keren dan menarik.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Pendidik dan Pengajar

Mempermudah Penulis bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta

Ternyata Resume Bisa Jadi Buku!