Postingan

OPS Sebagai Penjaga Data Administrasi Sekolah

Gambar
  Antara Tugas dan Makan Malam Menjelang malam yang indah, tampak tiga gadis manis para OPS tangguh sedang menikmati makan malam yang terlewat. Di sudut ruangan sederhana yang mulai sepi, cahaya lampu menemani tumpukan berkas, laptop yang masih menyala, serta suara ketikan yang sejak sore belum juga berhenti. Mereka adalah ibu Risma dari SDN Karanganyar 2, ibu Mae dari SDN Taman Sukarya, dan ibu Firly dari SDN Karangsari 1. Tiga perempuan hebat yang sehari-harinya akrab dengan data, laporan keuangan, aplikasi yang kadang sulit dipahami, dan tenggat waktu yang tidak pernah mau menunggu. Banyaknya administrasi dan laporan keuangan yang harus diselesaikan membuat mereka hampir melupakan makan malam. Jam dinding bahkan sudah mendekati larut malam, seolah memberi isyarat bahwa tubuh mereka sebenarnya lelah. Namun anehnya, di balik mata yang mulai berat, masih ada tawa kecil yang sesekali pecah di antara mereka. “Aduh… akhirnya selesai juga SPJ ini,” ujar Bu Mae sambil meregangkan tangan...

Anatar Tugas dan Makan Malam

Gambar
  “Antara Tugas dan Makan Malam” Malam itu udara Kabupaten Cianjur terasa sejuk. Hotel  Indo Alam  yang menjadi tempat berkumpulnya para peserta Bimtek pelatihan peningkatan kapasitas aparatur sekolah dasar negeri kota Tangerang 2026. Setelah seharian penuh mengikuti Bimtek Pengelolaan BOSP yang padat dengan materi, angka, laporan, dan berbagai aturan administrasi, tiga perempuan hebat akhirnya bisa menarik napas sedikit lebih lega. Di sebuah sudut tempat makan sederhana, tampak Ibu Risma dari SDN Karanganyar 2, Ibu Mae dari SDN Taman Sukarya, dan Ibu Firly dari SDN Karangsari 1 duduk melingkar di satu meja. Piring-piring makan malam tersaji di hadapan mereka. Ada sup hangat, nasi, lauk sederhana, dan pisang sebagai penutup. Tidak mewah, tetapi terasa begitu nikmat setelah hari yang melelahkan. Sesekali mereka tertawa kecil. Sesekali pula terdengar keluhan ringan tentang tugas yang menumpuk. “Kalau ingat laporan yang harus direvisi, rasanya pengin tidur saja seminggu,” uj...

Batik yang Berbeda Namun menyatukan

Gambar
  “Batik yang Belum Dimiliki, tetapi Hatinya Sudah Menyatu” Pagi itu di Kabupaten Cianjur terasa begitu damai. Udara dingin masih menyelimuti halaman penginapan tempat berlangsungnya Bimtek Peningkatan Kapasitas Aparatur Sekolah Dasar Negeri Kota Tangerang Tahun 2026. Di tengah kesibukan kegiatan, lima perempuan berdiri bersama dengan tawa yang hangat dan wajah-wajah penuh kebahagiaan. Di antara mereka, Hj. Ita dan Tini Suhartini tampak mengenakan batik dengan corak yang sama. Batik itu memang sudah direncanakan untuk dipakai bersama sebagai tanda kebersamaan. Namun rencana itu akhirnya berubah menjadi pelajaran indah tentang arti menghargai dan merangkul sesama. Sebab saat itu, Ibu Mintang, Ibu Tuti Pusharyati, dan Ibu Agus belum memiliki batik yang sama. Mereka adalah kepala sekolah baru yang masih menjalani perjalanan awal dalam amanah kepemimpinan. Masih belajar menyesuaikan langkah, masih membangun kepercayaan diri, dan masih berusaha menemukan tempat nyaman di tengah lingkung...

Dua Sosok Perempuan Tangguh

Gambar
 Di sebuah sudut Kabupaten Cianjur, pada pagi yang sejuk tanggal 22 Mei 2026, dua perempuan hebat duduk berdampingan sambil tersenyum hangat. Tidak ada yang menyangka, pertemuan itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan perjumpaan dua kepala sekolah dari korwil berbeda yang dipersatukan oleh jalan pengabdian dan hasil seleksi kinerja kepala sekolah. Mereka adalah Diah Sukmawati dan Tini Suhartini. Dua sosok perempuan tangguh yang sama-sama memahami bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang perjuangan, kesabaran, dan ketulusan membangun masa depan anak-anak Indonesia. Awalnya mereka hanya saling mengenal nama. Bertemu dalam kegiatan, saling menyapa seperlunya, lalu kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Namun waktu perlahan menjadikan keduanya lebih dekat. Di sela kegiatan dinas, pelatihan, dan perjalanan pendidikan, mereka mulai berbagi cerita tentang sekolah, guru, murid, bahkan tentang lelah yang sering disimpan di balik senyum seorang pemimpi...

Persahabatan Lintas Generasi

Gambar
 Di pagi yang cerah di hotel Indo Alam kawasan pegunungan yang sejuk, enam perempuan hebat berdiri bersama. Mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah sahabat yang dipertemukan oleh perjalanan panjang di dunia pendidikan. Dari kiri ke kanan, ada Ibu Warsih, Ibu Ni Wayan, Ibu Wawat Tustiawati, Ibu Shuhaibah, Ibu Yulia Wardani, dan Ibu Tini Suhartini. Enam kepala sekolah lintas generasi dengan kisah hidup yang berbeda, tetapi memiliki hati yang sama: hati yang selalu ingin menyalakan cahaya bagi anak-anak Indonesia. Di foto itu, senyum mereka tampak sederhana. Namun siapa sangka, di balik senyum tersebut tersimpan ribuan cerita. Cerita tentang pagi yang dimulai sebelum matahari terbit, tentang lelah yang sering disembunyikan, tentang tanggung jawab yang tak pernah ringan, dan tentang perjuangan mendidik generasi penerus bangsa. Ibu Warsih berdiri dengan penuh wibawa. Sosok yang tenang dan keibuan, yang selalu mampu membuat suasana menjadi hangat. Banyak yang mengatakan, nasihat ...

Publikasi dan Legalitas Karya Tulis

Gambar
  Resume Ke-14 KBMN-PGRI Gelombang 34 “Publikasi dan Legalitas Karya Tulis 📅 Rabu, 20 Mei 2026 🕖 Pukul 19.09 WIB – 22.05 WIB Pertemuan ke 14 Resume oleh: Tini Suhartini Kegiatan Belajar Menulis Nusantara (KBMN-PGRI) Gelombang 34 hari ke-14 kembali menghadirkan pembelajaran yang sangat menarik dan membuka wawasan para peserta tentang dunia kepenulisan. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026 ini dimulai pukul 19.09 WIB dan berakhir pada pukul 22.05 WIB dengan suasana hangat, penuh semangat literasi, serta diskusi yang sangat hidup. Kegiatan malam itu dimoderatori dengan baik oleh Arofiah Afifi yang mampu membangun suasana kelas menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Tema yang diangkat adalah “Publikasi dan Legalitas Karya Tulis” , sebuah tema yang sangat penting bagi para penulis, khususnya guru dan pegiat literasi yang mulai aktif menghasilkan karya tulis. Narasumber pada kegiatan tersebut adalah Eka Yulia atau yang lebih dikenal dengan nama pena Agisty Puteri. Belia...

Langkah Pertama yang Mengubah Rasa Takut Menjadi Kepercayaan Diri

Gambar
  Langkah Pertama yang Mengubah Rasa Takut Menjadi Kepercayaan Diri Pagi itu, Senin 18 Mei 2026, halaman SDN Neglasari 1 dipenuhi barisan siswa yang berdiri rapi mengikuti upacara bendera. Matahari pagi menyinari wajah-wajah penuh semangat para siswa, sementara para guru berdiri mendampingi dengan khidmat. Namun di balik suasana yang tenang itu, ada satu sosok yang sedang berjuang melawan rasa gugup dalam dirinya. Beliau adalah Pak Taupik, guru PJOK PPPK tahun 2025 asal Tasikmalaya yang baru lima bulan bertugas di SDN Neglasari 1. Sosoknya dikenal ramah, disiplin, dan penuh semangat saat mendampingi siswa belajar olahraga. Meski terlihat percaya diri ketika mengajar di lapangan, ternyata berbicara di depan seluruh warga sekolah dalam kegiatan upacara bendera adalah pengalaman pertama baginya. Ketika beliau mendapatkan amanah menjadi pembina upacara pada hari Senin, rasa cemas mulai hadir. Menjadi pembina upacara bukan perkara mudah. Berdiri di depan ratusan siswa dan guru membutuhk...