Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie
RESUME KBMN PGRI GELOMBANG 34 PERTEMUAN KE-17
“Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie”
Disusun oleh:
Tini Suhartini, S.Pd.
Kepala SD Negeri Neglasari 1 Kota Tangerang
Narasumber Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd.,
Moderator Ibu Yandri Novita Sari
Menulis Adalah Jejak Abadi Seorang Guru
Alhamdulillah, rasa syukur yang tak terhingga saya panjatkan kepada Allah SWT karena sampai hari ini saya masih diberi kesempatan mengikuti kegiatan KBMN PGRI Gelombang 34. Perjalanan belajar menulis ini telah memasuki pertemuan ke-17, sebuah perjalanan yang bukan hanya mengajarkan bagaimana merangkai kata, tetapi juga bagaimana meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.
Malam ini terasa sangat istimewa karena kami mendapatkan materi yang sangat membuka wawasan tentang dunia penerbitan buku, khususnya penerbit indie, bersama narasumber luar biasa, yaitu Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd., atau yang akrab disapa Cak Inin. Kegiatan dipandu dengan hangat dan penuh semangat oleh moderator Ibu Yandri Novita Sari dari Tim Solid OmJay.
Sebagai kepala sekolah di SDN Neglasari 1 Kota Tangerang, saya merasa materi malam ini bukan hanya penting untuk diri saya pribadi, tetapi juga sangat relevan untuk memotivasi guru-guru agar berani berkarya dan menuliskan pengalaman terbaiknya dalam dunia pendidikan.
KBMN: Tempat Guru Bertumbuh dan Berkarya
Pada pembukaan kegiatan, moderator menyampaikan bahwa banyak guru sebenarnya sudah memiliki naskah, pengalaman, ide, bahkan catatan pembelajaran yang luar biasa. Namun sering kali berhenti pada satu pertanyaan:
“Naskah saya sudah jadi, lalu bagaimana menerbitkannya?”
Pertanyaan sederhana tersebut ternyata menjadi keresahan banyak guru. Di sinilah KBMN hadir menjadi jembatan harapan bagi para pendidik untuk berani melangkah menjadi penulis.
Saya sangat tersentuh ketika moderator menyampaikan bahwa Tim Solid OmJay bekerja penuh keikhlasan demi terus hidupnya gerakan literasi guru Indonesia. Semangat pengabdian seperti inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua sebagai pendidik.
Sosok Inspiratif Bernama Mukminin, S.Pd., M.Pd.
Cak Inin bukan hanya seorang guru Bahasa Indonesia, tetapi juga seorang pegiat literasi, penulis produktif, editor, sekaligus owner Penerbit Kamila Press Lamongan. Beliau telah menulis puluhan buku, menerbitkan ratusan karya guru Indonesia, bahkan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam bidang literasi.
Yang paling menginspirasi saya adalah ketika beliau menyampaikan bahwa dirinya juga merupakan alumni peserta KBMN Gelombang 8. Artinya, siapa pun bisa menjadi penulis besar apabila mau belajar, disiplin, dan konsisten.
Beliau menyampaikan sebuah kalimat yang sangat membekas di hati saya:
“Anda disebut penulis jika Anda sudah menerbitkan buku.”
Kalimat tersebut sederhana, tetapi memiliki kekuatan besar untuk membangkitkan keberanian guru-guru agar tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga meninggalkan karya nyata.
Mengenal Penerbit Mayor dan Penerbit Indie
Materi inti malam itu membahas tentang perbedaan penerbit mayor dan penerbit indie. Sebelumnya saya mengira menerbitkan buku adalah sesuatu yang sulit dan hanya bisa dilakukan oleh penulis terkenal. Namun ternyata dunia penerbitan sekarang semakin terbuka untuk siapa saja, termasuk guru.
1. Penerbit Mayor
Penerbit mayor biasanya mencetak buku dalam jumlah besar, memiliki seleksi naskah yang sangat ketat, dan membutuhkan waktu lama untuk proses penerbitannya. Keuntungan dari penerbit mayor adalah biaya penerbitan gratis dan distribusi buku lebih luas.
Namun tantangannya adalah tidak semua naskah diterima karena penerbit mayor mempertimbangkan pasar dan keuntungan penjualan.
2. Penerbit Indie
Berbeda dengan penerbit mayor, penerbit indie lebih fleksibel. Naskah yang layak dan tidak melanggar aturan umumnya dapat diterbitkan. Prosesnya lebih cepat dan penulis memiliki kebebasan lebih besar terhadap karya yang diterbitkan.
Bagi guru-guru yang baru memulai dunia menulis, penerbit indie bisa menjadi jalan terbaik untuk mewujudkan mimpi memiliki buku sendiri.
Materi ini membuka mata saya bahwa guru sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkarya. Banyak pengalaman pembelajaran, kisah inspiratif murid, strategi mengajar, bahkan perjalanan kehidupan di sekolah yang sangat layak dibukukan.
Lima Tahapan Menjadi Penulis
Cak Inin juga menjelaskan bahwa sebelum menerbitkan buku, ada lima tahapan penting yang harus dilalui:
Prewriting – Menentukan ide dan konsep tulisan
Drafting – Menulis naskah awal
Revisi – Memperbaiki isi tulisan
Editing/Swasunting – Menyunting tulisan agar lebih baik
Publikasi – Menerbitkan karya menjadi buku
Dari tahapan tersebut saya belajar bahwa menulis bukan tentang langsung sempurna, tetapi tentang keberanian untuk memulai.
Momen Membanggakan dalam KBMN
Alhamdulillah, pada sesi tanya jawab saya mendapatkan hadiah buku dari narasumber karena berhasil menjawab pertanyaan tentang syarat minimal halaman buku ber-ISBN, yaitu 49 halaman.
Bagi sebagian orang mungkin itu hal kecil, tetapi bagi saya itu menjadi penyemangat besar bahwa belajar dengan sungguh-sungguh akan selalu menghasilkan sesuatu yang membahagiakan.
Saya semakin yakin bahwa usia, jabatan, ataupun kesibukan bukanlah penghalang untuk terus belajar dan berkarya.
Menulis sebagai Budaya di SDN Neglasari 1 Kota Tangerang
Sebagai kepala sekolah, saya menyadari bahwa budaya literasi tidak cukup hanya dengan membaca. Guru juga harus berani menulis.
Guru yang menulis akan:
lebih reflektif dalam mengajar,
lebih kreatif dalam menyampaikan pembelajaran,
lebih percaya diri dalam berbagi praktik baik,
dan lebih termotivasi untuk terus belajar.
Karena itu saya memiliki harapan besar agar guru-guru di SDN Neglasari 1 Kota Tangerang mulai membiasakan diri menulis, walaupun dimulai dari hal sederhana:
menulis pengalaman mengajar,
membuat artikel pendidikan,
menulis puisi,
membuat cerita inspiratif,
hingga menyusun buku sederhana bersama.
Saya percaya bahwa sekolah hebat bukan hanya sekolah yang siswanya berprestasi, tetapi juga sekolah yang guru-gurunya mau terus belajar dan berkarya.
Pesan yang Sangat Menginspirasi
Ada beberapa motto dari Cak Inin yang sangat menyentuh hati saya, di antaranya:
“Tiada kata terlambat untuk menulis.”
“Jadikan hidup untuk bermanfaat bagi orang lain.”
“Jika ingin panjang umur Anda, maka menulislah.”
Kalimat-kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa tulisan akan membuat nama seseorang tetap hidup, bahkan ketika dirinya sudah tiada.
Guru mungkin tidak selalu dikenang melalui jabatan, tetapi akan dikenang melalui ilmu dan karya yang ditinggalkannya.
Penutup
Pertemuan ke-17 KBMN PGRI Gelombang 34 malam ini benar-benar memberikan energi baru bagi saya untuk terus belajar menulis dan mulai berani menerbitkan karya.
Saya berharap resume sederhana ini dapat menjadi penyemangat bagi guru-guru di SDN Neglasari 1 Kota Tangerang khususnya, dan seluruh pembaca pada umumnya, agar tidak takut menulis.
Mari kita buktikan bahwa guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penulis yang mampu menginspirasi dunia melalui karya.
Karena sejatinya…
Tulisan adalah warisan terbaik seorang guru.
Salam Literasi ✍️📚
Tini Suhartini
Kepala SD Negeri Neglasari 1 Kota Tangerang
Peserta KBMN PGRI Gelombang 34

Mantap resumemya
BalasHapusterima kasih Om Jay .. sehat-sehat selalu
BalasHapus