Menulis Buku Biografi dan Autobiografi
Resume KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan Ke-15
Jum'at, 22 Mei 2026
Tema: Menulis Buku Biografi dan Autobiografi
Nara sumber Ibu Lely Suryani,S.Pd.SD
Moderator : Aam Nurhasanah,S.Pd
Penulis: Tini Suhartini
Kepala SD Negeri Neglasari 1 Kota Tangerang
“Setiap Manusia Memiliki Cerita yang Layak Diabadikan”
Kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 kembali menghadirkan suasana belajar yang hangat, penuh makna, dan menggugah hati. Pada pertemuan ke-15 ini, peserta diajak menyelami dunia literasi melalui tema “Menulis Buku Biografi dan Autobiografi” bersama narasumber inspiratif, Lely Suryani, dengan moderator yang penuh semangat, Aam Nurhasanah.
Sejak awal kegiatan, suasana grup WhatsApp KBMN sudah terasa hidup. Moderator membuka kegiatan dengan salam literasi dan pantun yang indah, mengajak seluruh peserta untuk berkarya sepenuh hati. Kehangatan itu semakin terasa ketika Ibu Lely hadir menyapa peserta dengan penuh kerendahan hati dan rasa syukur.
Beliau menyampaikan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang memiliki segudang prestasi, melainkan hanya seseorang yang berani mencoba dan memegang kepercayaan. Dari sinilah peserta belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk melangkah.
Biografi Bukan Sekadar Cerita, Tetapi Warisan Kehidupan
Dalam penyampaian materinya, Ibu Lely menjelaskan bahwa menulis biografi maupun autobiografi bukan sekadar mencatat perjalanan hidup seseorang. Lebih dari itu, menulis biografi adalah seni mengabadikan perjuangan, harapan, air mata, dan keberhasilan manusia agar tetap hidup sepanjang masa.
Beliau mengajak seluruh peserta menjadi “arsitek sejarah” bagi kehidupan orang lain maupun diri sendiri.
Salah satu kalimat yang sangat membekas dalam hati peserta adalah:
“Tidak ada hidup yang terlalu biasa untuk ditulis. Yang ada hanyalah sudut pandang yang belum diasah.”
Kalimat sederhana tersebut menjadi tamparan lembut bagi banyak peserta yang selama ini merasa hidupnya biasa-biasa saja. Padahal, setiap manusia memiliki kisah perjuangan yang dapat menjadi cahaya bagi orang lain.
Melalui materi ini, peserta memahami bahwa:
Biografi adalah tulisan tentang perjalanan hidup orang lain.
Autobiografi adalah tulisan tentang perjalanan hidup diri sendiri.
Sedangkan memoar lebih fokus pada satu peristiwa penting dalam kehidupan.
Menulis dengan Hati dan Empati
Ibu Lely juga menekankan bahwa menulis biografi membutuhkan empati dan penghormatan kepada tokoh yang ditulis. Penulis tidak boleh sembarangan membuka aib atau sisi negatif seseorang tanpa izin.
Menulis biografi berarti belajar memahami manusia tanpa menghakimi.
Hal inilah yang membuat tulisan biografi menjadi sangat kuat dan menyentuh. Sebab pembaca tidak hanya mengetahui kisah seseorang, tetapi ikut merasakan perjuangan hidupnya.
Dalam sesi tanya jawab, banyak peserta mengungkapkan keraguan mereka dalam menulis autobiografi. Ada yang merasa hidupnya tidak menarik, ada pula yang takut kisah hidupnya terlalu rumit.
Namun dengan penuh kelembutan, Ibu Lely menjawab bahwa justru dari perjalanan sederhana itulah lahir kisah yang paling menyentuh hati.
Beliau mengingatkan bahwa:
Tulislah dulu apa adanya.
Jangan takut salah.
Susun draf perlahan.
Revisi adalah bagian dari proses menjadi penulis.
Literasi yang Menghidupkan Harapan
Materi malam itu tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membangkitkan keberanian untuk mengenang dan menghargai perjalanan hidup.
Banyak peserta mulai menyadari bahwa:
Kisah seorang ibu dapat menjadi inspirasi.
Perjuangan seorang guru layak diabadikan.
Pengalaman pahit dapat berubah menjadi pelajaran berharga.
Ibu Lely juga menjelaskan manfaat menulis buku bagi guru, termasuk manfaat administratif di Dapodik sebagai bagian dari pengembangan profesionalisme dan angka kredit kenaikan pangkat.
Namun lebih dari semua itu, manfaat terbesar menulis adalah kepuasan batin dan jejak kebaikan yang akan terus hidup meski waktu berlalu.
Moderator yang Menghidupkan Suasana
Peran Aam Nurhasanah sebagai moderator sangat luar biasa dalam menjaga suasana belajar tetap hangat dan interaktif. Beliau tidak hanya memandu jalannya kegiatan, tetapi juga memberi semangat kepada peserta untuk berani menghasilkan karya nyata.
Beliau berulang kali mengingatkan bahwa:
“Wujud ketuntasan belajar adalah karya.”
Kalimat ini menjadi pengingat penting bahwa ilmu tidak boleh berhenti di catatan atau diskusi semata, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk tulisan yang nyata.
Refleksi dan Motivasi
Sebagai seorang kepala sekolah, saya, Tini Suhartini, merasa materi malam ini begitu menyentuh hati. Dunia pendidikan sesungguhnya dipenuhi kisah-kisah luar biasa yang sering kali terlupakan karena tidak pernah dituliskan.
Setiap guru memiliki perjuangan.
Setiap siswa memiliki mimpi.
Setiap sekolah memiliki sejarah.
Semua itu layak diabadikan.
Melalui materi ini saya belajar bahwa menulis bukan hanya tentang kemampuan merangkai kata, tetapi tentang keberanian meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi mendatang.
Mungkin kita bukan tokoh terkenal.
Mungkin hidup kita terasa sederhana.
Namun siapa sangka, kisah sederhana yang kita tulis hari ini dapat menjadi kekuatan bagi seseorang di masa depan.
Penutup
Pertemuan ke-15 KBMN PGRI Gelombang 34 menjadi malam yang penuh makna. Materi tentang biografi dan autobiografi bukan hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga mengajarkan cara menghargai kehidupan.
Dari Ibu Lely, peserta belajar tentang keberanian menulis dengan hati.
Dari Ibu Aam, peserta belajar tentang semangat membersamai dan menuntaskan karya.
Semoga setelah pertemuan ini, semakin banyak guru Indonesia yang berani menulis kisah hidupnya, kisah muridnya, dan kisah perjuangan pendidikan di negeri ini.
Karena sejatinya…
Setiap manusia memiliki cerita.
Dan setiap cerita layak diukir menjadi abadi melalui tulisan.

Mantap
BalasHapusterima kasih
BalasHapusSemoga buku yg twrbit nanti berasal dari kisah keseharian seorang guru yg mendapat tuhas tanbahan sebagai kepala sekolah
BalasHapus