Menulis Berkualitas Dimulai dari Proofreading
Menulis Berkualitas Dimulai dari Proofreading
Resume KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-12
Oleh: Tini Suhartini, S.Pd., M.Pd.
Kepala SD Negeri Neglasari 1 Kota Tangerang
Jum’at, 15 Mei 2026 menjadi malam penuh pembelajaran dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34. Pada pertemuan ke-12 ini, para peserta diajak memahami pentingnya *proofreading* sebelum sebuah tulisan diterbitkan. Materi disampaikan oleh Susanto dan dipandu oleh Lely Suryani.
Tema malam ini terasa sangat dekat dengan dunia guru, khususnya bagi guru yang sedang belajar menulis dan mulai berani menuangkan ide, pengalaman, maupun inspirasi dalam bentuk tulisan. Menulis bukan hanya tentang menuangkan kata-kata, tetapi juga tentang menghadirkan tulisan yang nyaman dibaca, mudah dipahami, dan memiliki kualitas yang baik.
Dari materi yang disampaikan, saya semakin memahami bahwa sebuah tulisan yang baik tidak lahir begitu saja. Di balik tulisan yang enak dibaca, ada proses panjang berupa membaca ulang, memperbaiki ejaan, mencermati tanda baca, hingga memastikan susunan kalimat menjadi lebih efektif. Proses inilah yang disebut *proofreading* atau swasunting.
Sebagai seorang guru dan kepala sekolah, saya merasa materi ini sangat penting untuk dibagikan kepada rekan-rekan guru. Banyak guru sebenarnya memiliki ide luar biasa, pengalaman mengajar yang hebat, bahkan kisah inspiratif yang layak dituliskan. Namun sering kali rasa kurang percaya diri muncul hanya karena takut tulisannya salah. Padahal, kesalahan dalam tulisan dapat diperbaiki melalui proses proofreading.
Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa hal menarik yang menjadi pembelajaran bersama, di antaranya:
1. Kunci belajar proofreading adalah membaca
Semakin sering membaca, maka semakin terbiasa memahami tata bahasa, struktur kalimat, dan penggunaan ejaan yang benar. Guru perlu akrab dengan EYD V atau PUEBI agar tulisan semakin baik.
2. Tidak harus memiliki aplikasi khusus
Menjadi penulis yang baik tidak selalu bergantung pada aplikasi canggih. Ketelitian, kebiasaan membaca ulang tulisan, dan kemauan belajar jauh lebih penting daripada sekadar alat bantu.
3. Menguasai struktur kalimat dan ejaan
Hal sederhana seperti penulisan “nonakademis” atau “antar kota” perlu dipahami dengan benar. Dari sini saya belajar bahwa detail kecil dapat menentukan kualitas sebuah tulisan.
4. Tidak harus bersertifikat editor
Siapa pun dapat melakukan proofreading untuk tulisannya sendiri. Inilah yang disebut swasunting. Artinya, guru pun bisa menjadi editor pertama bagi karya yang ditulisnya sendiri.
Materi malam ini memberikan kesadaran bahwa menulis bukan tentang langsung sempurna, melainkan tentang mau terus belajar memperbaiki diri. Proofreading mengajarkan kita untuk lebih teliti, sabar, dan menghargai proses.
Sebagai kepala sekolah, saya ingin mengajak para guru untuk mulai berani menulis. Jangan takut salah, karena tulisan yang baik lahir dari proses revisi dan pembelajaran yang terus-menerus. Tulisan guru sangat berharga karena berasal dari pengalaman nyata di dunia pendidikan. Dari tulisan sederhana, akan lahir inspirasi besar bagi banyak orang.
Guru yang menulis bukan hanya sedang mengabadikan pengalaman, tetapi juga sedang meninggalkan jejak ilmu untuk generasi berikutnya.
Semoga resume ini dapat menjadi motivasi bagi para guru untuk terus belajar menulis, memperbaiki tulisan melalui proofreading, dan semakin percaya diri dalam berkarya.

Komentar
Posting Komentar