Dua Hati
“Ibu Kedua di Sekolah”
Di tengah hamparan hijau kebun teh Gunung Mas yang sejuk dan menenangkan, dua perempuan itu berdiri berdampingan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Siapa pun yang melihatnya mungkin mengira mereka adalah ibu dan anak kandung yang sedang menikmati perjalanan keluarga. Padahal, mereka dipertemukan oleh sekolah, oleh pengabdian, dan oleh takdir yang indah bernama kebersamaan.
Sosok berjilbab merah muda itu adalah Tini Suhartini, Kepala SDN Neglasari 1 Kota Tangerang. Di sampingnya berdiri Lala atau Yusro Halawanih, tenaga tata usaha yang selama ini menjadi bagian penting perjalanan sekolah. Namun hubungan mereka bukan lagi sekadar kepala sekolah dan staf. Waktu perlahan mengubahnya menjadi hubungan yang jauh lebih dalam: seperti ibu dan anak yang saling menjaga.
Bu Tini bukan hanya pemimpin di ruang kerja. Ia hadir sebagai tempat bersandar ketika lelah datang, sebagai penguat ketika pekerjaan terasa berat, dan sebagai sosok yang selalu percaya bahwa setiap orang di sekolah layak dihargai, didengar, dan disayangi.
Lala masih mengingat banyak hal kecil yang mungkin bagi orang lain tampak biasa, tetapi baginya akan tinggal selamanya di hati. Cara Bu Tini bertanya, “Sudah makan belum?” di tengah kesibukan. Cara beliau menenangkan saat pekerjaan menumpuk. Cara beliau membimbing tanpa pernah membuat siapa pun merasa rendah. Dan cara beliau memperlakukan staf bukan sebagai bawahan, melainkan keluarga yang harus dijaga.
Hari itu di Gunung Mas menjadi salah satu potongan kenangan yang tidak akan mudah dilupakan. Udara dingin, hamparan hijau, dan tawa sederhana di sela perjalanan seakan menyimpan cerita tentang kasih sayang yang tumbuh di tempat kerja.
Namun sesungguhnya, yang paling mengharukan bukan hanya tentang hari ini.
Melainkan tentang suatu masa nanti… ketika tahun-tahun telah berganti.
Ketika mungkin Lala bukan lagi staf tata usaha di SDN Neglasari 1. Ketika rutinitas pagi di sekolah sudah berubah. Ketika ruang kerja yang dulu ramai dengan percakapan dan canda perlahan menjadi kenangan.
Di masa itu, Bu Tini mungkin akan membuka kembali foto ini dalam diam.
Beliau akan memandang senyum Lala sambil mengingat bagaimana dulu mereka pernah berjuang bersama menyelesaikan administrasi sekolah, menghadapi kesibukan tanpa mengenal waktu, saling menguatkan di tengah lelah, dan berbagi cerita sederhana yang justru terasa paling berharga.
Mungkin hati Bu Tini akan berbisik pelan,
"Dulu ada anak baik yang selalu menemani perjuangan di sekolah ini."
Karena bagi seorang pemimpin yang memimpin dengan hati, kehilangan staf bukan hanya kehilangan rekan kerja. Tetapi seperti melepas anak sendiri untuk tumbuh di jalan kehidupannya.
Dan bagi Lala, sejauh apa pun langkah hidup membawanya nanti, akan selalu ada satu tempat yang terasa hangat di hati: SDN Neglasari 1. Tempat di mana ia pernah dipeluk oleh perhatian tulus seorang kepala sekolah yang tidak hanya memberi pekerjaan, tetapi juga kasih sayang.
Waktu memang akan terus berjalan. Jabatan akan berubah. Kehidupan akan berganti cerita.
Tetapi kenangan tentang seorang perempuan bernama Tini Suhartini yang hadir sebagai ibu kedua di sekolah…
akan tinggal selamanya,
di ruang paling hangat dalam ingatan.
Bagi Lala kapanpun itu sekarang atau nanti ibu Tini tetaplah sebuah nama yang bersemayam dalam hatinya. Walau kadang ada sesak dan kesal menghampiri semua terlupakan dengan potongan kisah yang terukir indah dan tak lekang oleh waktu.

Komentar
Posting Komentar