Anatar Tugas dan Makan Malam


 

“Antara Tugas dan Makan Malam”

Malam itu udara Kabupaten Cianjur terasa sejuk. Hotel  Indo Alam  yang menjadi tempat berkumpulnya para peserta Bimtek pelatihan peningkatan kapasitas aparatur sekolah dasar negeri kota Tangerang 2026. Setelah seharian penuh mengikuti Bimtek Pengelolaan BOSP yang padat dengan materi, angka, laporan, dan berbagai aturan administrasi, tiga perempuan hebat akhirnya bisa menarik napas sedikit lebih lega.

Di sebuah sudut tempat makan sederhana, tampak Ibu Risma dari SDN Karanganyar 2, Ibu Mae dari SDN Taman Sukarya, dan Ibu Firly dari SDN Karangsari 1 duduk melingkar di satu meja. Piring-piring makan malam tersaji di hadapan mereka. Ada sup hangat, nasi, lauk sederhana, dan pisang sebagai penutup. Tidak mewah, tetapi terasa begitu nikmat setelah hari yang melelahkan.

Sesekali mereka tertawa kecil. Sesekali pula terdengar keluhan ringan tentang tugas yang menumpuk.

“Kalau ingat laporan yang harus direvisi, rasanya pengin tidur saja seminggu,” ujar Ibu Mae sambil tersenyum lelah.

Ibu Firly tertawa pelan. “Tapi besok tetap bangun pagi dan lanjut kerja lagi.”

“Namanya juga OPS,” sahut Ibu Risma. “Kadang yang dipikir bukan diri sendiri dulu, tapi bagaimana sekolah tetap berjalan baik.”

Mereka lalu terdiam beberapa saat, menikmati makanan hangat yang perlahan mengusir penat. Di tengah kesibukan dunia pendidikan, para operator sekolah memang sering menjadi sosok yang bekerja di balik layar. Mereka jarang terlihat di depan, tetapi hampir semua administrasi sekolah bergantung pada ketelitian dan kesabaran mereka.

Malam itu bukan hanya tentang makan malam. Itu adalah tentang persahabatan yang tumbuh di antara perjuangan. Tentang perempuan-perempuan hebat yang tetap tersenyum meski pikirannya dipenuhi tenggat waktu, sinkronisasi data, hingga laporan dana sekolah.

Di sela percakapan, mereka saling berbagi cerita tentang sekolah masing-masing. Tentang guru-guru yang baik, tentang kepala sekolah yang mendukung, hingga tentang rasa lelah yang kadang tidak sempat diucapkan.

Namun di meja sederhana itu, mereka merasa dimengerti.

Lampu-lampu malam di sekitar tempat pelatihan mulai redup. Beberapa peserta lain sudah kembali ke kamar masing-masing. Tetapi tiga OPS itu masih menikmati kebersamaan dengan penuh hangat, seolah malam ingin berjalan sedikit lebih lama.

Karena pada akhirnya, di balik tugas yang berat dan tanggung jawab yang besar, selalu ada ruang kecil untuk tertawa, berbagi cerita, dan menikmati makan malam bersama sahabat seperjuangan.

Dan mungkin, itulah yang membuat mereka tetap kuat hingga hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Pendidik dan Pengajar

Mempermudah Penulis bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta

Ternyata Resume Bisa Jadi Buku!